![]() |
Bila Corona Bisa Terlihat (sumber: facebook.com)
|
Suatu ketika sang Raja Corona kedatangan tamu istimewa, siapa lagi kalau bukan Syaitan yang terkutuk itu. Merekapun berbincang seputar keberhasilan bala tentara corona yang berhasil memporak-porandakan kehidupan manusia.
"Bumi sebenarnya pengen istirahat, tapi bingung minta tolong siapa." sang Raja Corona memulai pembicaraan.
"Dia curhat, selama ini manusia cuma bisa merusak perutnya. Menggali bumi tanpa reklamasi, dibiarkan terlantar begitu saja. Di udara manusia bikin polusi, membuat ozon terluka. Manusia memang serakah, apa saja mau dimakan asal jadi duit. Semua diukur sama uang, bahkan rela saling membunuh demi uang. Tapi sampahnya dibuang begitu saja mengotori muka bumi."
"Lalu berdoalah bumi pada Tuhan, minta tolong buat istirahat barang sejenak saja. Sudah lelah rasanya ngemong manusia yang makin hari makin tak peduli lagi sama lingkungan. Demi uang mereka rela merusak lingkungan. Kemudian Tuhan menyuruhku supaya mengerahkan anak buah turun ke bumi."
"Tubuh kami yang super kecil mungil tak nampak mata oleh manusia sehingga kami bebas berkeliaran tanpa batas. Manusia boleh merasa super power kala menghadapi makhluk besar, tapi rupanya kecil di mata kami hahahaha ......." raja Coronapun tertawa lebar.
"Kasihan juga melihat manusia blingsatan menghadapi kami. Coba bayangkan, demi menemukan kami saja, mereka rela menutup pabrik, kantor, jalan. Melarang sesama mereka bepergian apalagi mudik karena menganggap kami menempel pada tubuh-tubuh mereka. Bahkan lucunya sampai menyemprot racun, bukan cuma sekedar membunuh kami tapi juga makhluk lain yang lebih besar. Kata orang Medan, biawakpun mati disemprot macam gitulah."
![]() |
| foto : csid |
"Padahal kami cuma sembunyi di keramaian, di tempat-tempat orang kaya kumpul, di ruang berpendingin udara, di tempat orang berduit merasa nyaman. Kami juga gengsi dong tinggal di tempat-tempat kotor, kumuh, biarkan virus lain tinggal di situ, kami tak mau mengganggu sesama virus hahaha......"
"Kami juga tak berniat membunuh, cuma mengganggu sedikit hidungnya saja. Mereka saja yang sudah terlalu enak hidup, jadi lupa jaga kesehatan. Mereka sudah terlalu malas untuk bekerja keras, terlalu enak duduk manis di ruangan yang sejuk. Otak mereka penuh tekanan untuk menghasilkan uang yang lebih banyak dan lebih banyak lagi. Mereka stress karena uang yang diterima tak sesuai harapan sehingga harus kejar target lebih besar lagi."
"Ingat boss, yang bikin mati itu pikiran manusia yang stress cari duit terus, dan takut mati karena belum dapat uang sesuai target. Kalau pikirannya sehat, dia punya peluru untuk melawanku. Kasihan para dokter dan perawat, mereka jadi ikutan stress yang akhirnya menurunkan daya tahan tubuhnya sendiri. Maafkan kami ya, sekali lagi tak ada maksud jahat dari kami, cuma sekedar mengingatkan mereka yang terlalu sibuk urusan dunia saja."
Setanpun menimpali.
"Terima kasih bos, sekarang kami ga perlu repot menjauhkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan sendirinya tak lagi mendatangi tempat ibadah, takut ketemu Anda. Selama ini kami setengah mati berusaha menggoda manusia supaya jauh dari Tuhannya, tapi sekarang ini malah tambah susah karena sudah banyak yang tobat bahkan jadi taat sekali. Kehadiran Anda membuat kami tak lagi capek menggoda mereka. Cukup berikan rasa takut, selesai sudah urusan."
"Sesama manusia sudah mulai menjauh dan tampak jijik satu sama lain. Salaman sudah tak mau lagi, dudukpun berjauhan. Bahkan jenazahnyapun tak mau mereka dekati, hanya gara-gara ada tentara Anda. Sungguh keterlaluan manusia itu, lebih jahat daripada kami. Sekarang kami tak lagi ditakuti, malah mereka lebih takut ketemu Anda."
Raja Corona kembali tertawa lebar....
"Bayangkan, satu kota, bahkan satu negara dikunci, hanya demi mencari kami. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, dibakarlah jerami supaya nampak sisa-sisa logam jarum itu. Kasihan rakyatnya jadi menderita, padahal belum tentu mereka semua kami tunggangi. Hanya segelintir manusia saja koq tempat kami biasa nangkring. Tapi karena belum ada alat canggih macam scanner infra merah yang mampu melihat kami langsung, maka seluruh manusia harus dikarantina tanpa kecuali. Kasihan yang pada mudik, harus karantina 14 hari, padahal belum tentu mereka bawa virus."
"Sudah itu pada latah lagi, ga tau artinya lockdown itu apa. Ada yang tulis "lock don't" lah, ada yang bilang "download" lah, "lauk daun" lah. Dasar wong ndeso, ra ngerti Inggris sok-sokan nganggo boso Inggris."
"Lucunya lagi, para tahanan malah dilepas, padahal di penjara itulah karantina sebenarnya. Kalau dikunci semua kan ga bakal kami masuk. Berarti memang ada tahanan yang nakal sering keluar masuk penjara diam-diam. Jadi ketahuan deh siapa sebenarnya yang sering keluar masuk penjara."
"Sudah dua minggu karantinapun masih kurang, ada yang diperpanjang sampai dua bulan. Lama-lama mereka bakal mati kelaparan karena tak ada lagi orang kerja. Tak ada produktivitas tak ada uang untuk beli makan. Petani dan peternakpun enggan kerja kalau satu kota atau negara dikunci. Kemana mereka mau jual kalau tak ada yang beli."
"Padahal, kalau mereka semua disiplin, umurku ga lama koq, cuma 14-21 hari saja. Kalau mereka semua rajin cuci tangan, kompak diam di rumah dua minggu aja, yakin deh, kami juga bakal mati sendiri. Tapi ya itulah manusia, setiap kepala beda keinginannya. Makanya aku paling takut kalau turun di negeri sosialis, mereka benar-benar disiplin. Beda dengan negeri demokrasi, susah diatur, banyak maunya dan mau menang sendiri. Jadi gampang buat kami berkeliaran di negeri mereka."
"Hahahaahahaaaa....." Kompak raja corona dan syaitan tertawa lebar. Menertawakan ulah manusia yang kerepotan menghadapi makhluk mini bernama corona. Ibarat menembak tikus dengan meriam, semua ikut mati gara-gara benda sekecil debu ini.
source: kompasiana


Komentar
Posting Komentar