Di balik gundukan sampah terlihat senyum kecut penuh pengorbanan, mengais-ngais sisa-sisa harapan untuk menyambung hidup di saat kerasnya hidup menempa semangat yang semakin mereda, menyurutkan niat untuk bebas bercerita tentang indahnya hidup.
Kantong-kantong besar penuh cerita misterius akan beratnya jalan yang mereka lalui membawa mereka kepada petaka yang tak berujung lenyap, semakin mereka mendekat semakin mereka di jauhkan, di larang, dan di sudutkan seolah-olah isi dunia ini hanya milik orang berduit.
Lewat plastik-plastik sampah bekas, rongsokan bekas, kaleng bekas, dan botol air mineral bekas mereka bisa leluasa bercerita tentang semangat hidup yang berbeda dari orang di sekitar pelataran mereka bernapas. Semenjak mentari mulai menua, kantong-kantong harapan mereka mulai di letakkan di atas pundak pengharapan dan wajah yang sedikit berbalut senyuman dengan harapan bisa mendapatkan logam rupiah untuk sekedar mengisi kantong perut. Berjalan di lorong-lorong gelap penuh kegelisahan, memeriksa setiap bak yang mereka lalui dengan sangat teliti, menengok, mengais, dan mengucap syukur hari ini rejeki mereka sudah ada di tangan, tinggallah melanjutkan perjuangan akhir mereka ke penampung,
Oh…alam... sedikit berbanggalah akan kerja kami. kami sudah membantumu dari kuman-kuman penyiksa unsur hara. Lewat penderitaan kami engkau hidup kembali dari tangan-tangan dan pikiran jahat penguasa yang mengunci tanggungjawabnya terhadap engkau, mereka sedang tidur lelap dan bangun ketika engkau menegur, mereka mulai menggeram kala engkau mulai marah.
Alam...hanya kamilah satu-satunya orang yang sedikit berbangga akan hasil kerja keras kami meski terkadang dada ini sesak oleh celotehan mereka yang pedas.
Memandang sebelah mata layaknya mata mereka picek menghujam panah amarah dengan melarang pekerjaan hidup kami. Kami tahu kami hanyalah secuil dari banyaknya orang yang tidak beruntung. tetapi kami pun sadar kalau kami juga adalah hasil karya Yang Maha Kuasa, tidak ada batas bagi kami untuk menjelajah sudut-sudut dunia kotak demi mencari seberkas cahaya di setiap kerumunan manusia-manusia jahanam. Kami juga sama seperti mereka, sama-sama hidup di negara yang makmur 'tapi sayang jalan hidup kami sangat sedih untuk berbagi.
Lewat kaki dan tangan yang masih utuh mereka berusaha untuk terus hidup melanjutkan pesan Sang Khalik untuk memecahkan rentetan teka-teki sengsara yang tak tahu kapan akan berakhir dari kesadaran. Menguasai setiap tempat dengan sangat sempurna dan mereka akan terus berulang untuk menjalani rantai pemulung, tak pernah menyesal akan nasib mereka. tetap tegar pada ontel yang setia menemani. lagi besi yang melengkung laksana pedang keuntungan.
Hari-hari mereka adalah sampah dan hanya sampah yang bisa menghidupkan mereka dari tidurnya penguasa, melupakan kesenangan dengan mengorbankan sekelompok pemulung yang bermandikan peluh. Jalan sepi adalah teman penuntun mereka menuju kebahagiaan, mereka melihat dan juga mengerti apa yang orang-orang kebanyakan berseru,"mengikuti peraturan," tapi apalah daya bagi mereka semua itu, itu hanyalah gertakan kerupuk untuk tak melihat kebahagiaan mereka, itu hanyalah sambutan yang menggembirakan sejauh mereka berada di jalan pemulung dan tak mengambil hak orang lain itu sah-sah saja bagi mereka.
Tidak seperti layaknya sang pemangku kaki di balik tameng kekuasan hanya berjanji, berucap dan menghabiskan milik rakyat, tak ada rasa malu di paras mereka, paras malaikat bak penjaga pintu neraka, kejam, jahanam, tak berperasaan. Selayaknya malu tidak melihat kami yang santun penuh cercaan. Gubuk mereka begitu adanya roboh kala puting beliung, kepanasan, dan basah kala hujan menangis, tidak ada tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah. Hanya ada sekat-sekat lunak dari sisa-sisa kardus makanan yang menutupi mereka dari semua hukum alam itu, mereka tidak akan beranjak dari kenyamanan yang sudah bertahun-tahun mereka bangun dan rasakan pada tempat di mana mereka sudah bisa melihat indahnya dunia bersama keluarga kecil mereka. Mereka tahu suatu saat nanti ada pemulung yang bisa memperhatikan keadaan sesamanya karena di benak mereka sebuah mimpi yang besar pasti akan ada gunanya kalau kita berusaha dan selalu berdoa, tetap mencium baunya bak-bak sampah dan wanginya jerih payah yang sudah di usahakan.
Terkadang sengaja mereka mampir dan melihat orang di luar sana begitu bahagia dari sudut pandang mereka tetapi kebahagiaan yang mereka temui itu terasa begitu aneh dan kurang wajar, kebahagiaan untuk menghancurkan diri sendiri, dan kebahagiaan dalam topeng, mereka tidak habis pikir mengapa kebanyakan orang selalu saja begitu, dan membayangkan andai saja mereka hidup seperti kami dan kami hidup seperti mereka, pasti akan lain ceritanya, tetapi sudahlah kami hanyalah pemulung, yang kerjanya memulung lagi dan lagi lalu tidak ada kata bosannya. Separuh dari ketidak mampuan mereka sudah di serahkan di atas altar kepasrahan Yang Kuasa, mereka tidak mau mengambil risiko lebih jauh dari kemampuan mereka, mereka tidak mau hidup dengan penuh paksaan, mereka Cuma menginginkan menjadi diri mereka …ya, seperti jalan hidup mereka sekarang. Mereka adalah pemulung-pemulung yang sejati, tidak bermuka dua dan tidak hidup hedonis, pemulung-pemulung yang setia pada setiap nikmat yang di terima, sebuah kelompok kebanggan yang terbungkus dalam kejamnya perkembangan jaman. Ada kaki-kaki kecil yang berkeliaran di antara keras dan baunya bak-bak sampah, mata mereka berbinar-binar memancarkan cahaya pengharapan akan belas kasihannya manusia-manusia di balik pagar besi rumah, mereka tidak mengemis mereka Cuma lewat mengambil apa yang orang lain tidak inginkan, mereka adalah anak-anak pemulung ceria, bergerombolan kemana-mana dengan pundak yang masih sangat rapuh mereka menunjukkan keperkasaan mereka, mereka beermain layaknya anak-anak lainnya, tetapi mereka tahu kapan harus bekerja dan kapan harus bermain, tidak pernah memikirkan apa yang akan mereka dapatkan nanti tetapi dengan sebuah kantong mereka bisa tahu jawabannya. Mereka adalah harapan bangsa yang tertutup rapat dalam bejana, tidak meluap tidak juga berkurang mereka akan tetap sama seperti mereka sejak dari lahirnya.
Mereka menorehkan pertanyaan kepada sejumlah penguasa dimanakah nurani dan pikiran mereka kala anak manis di perbolehkan oleh situasi untuk bekerja keras, bukannya masa-masaa kecil mereka di pergunakan untuk mengenyam ilmu pengetahuan sebagai pelita masa depan. Yah…payah negara demokasi Pancasila di situlah mereka hidup, mereka melihat, mereka juga mendengar apa yang di ucapkan pemimpin sebelum dan sesudah kenaikan jabatan, itu hanyalah gombalan menjes yang habis di makan dan keluar lagi lewat tahi, tidak berguna sama sekali bagi rakyat kecil seperti pemulung. Titipan yang seharusnya bahagia sedikit demi sedikit mulai muncul kebencian dengan manusia pengusa mereka merasa geram dan berpikir lebih baik mengikuti garis tangan kehidupan mereka ketimbang tersiksa oleh suara yang kalau digonggong kafilah berlalu..



Komentar
Posting Komentar