Foto : plukme
Manusia dalam hidup ini tentunya memiliki harapan dan cita-cita. Bahkan dari harapan dan cita-cita itu seringkali manusia mengandaikan sesuatu yang belum ada di genggamannya. Pernahkan anda berpikir atau mengatakan ‘Andai hidupku seperti dia’ atau ‘Andai aku kaya, pasti aku akan begini dan begitu’? mungkin sebagian dari kita sudah pernah merasakan berandai demikian atau berandai yang lain.
Berandai terjadi karena kita merasa dalam hidup kita masih ada banyak kekurangan dan hidup orang lain sudah lebih baik dari hidup kita. Padahal Tuhan sudah menciptakan manusia pada kadarnya masing-masing. Tuhan pun tahu yang lebih baik bahkan yang terbaik untuk kita. Lantas kenapa masih sering berandai?
Jawabannya adalah karena kurangnya rasa syukur atas pemberian Tuhan pada hidup kita. Berandai memang tidak selalu buruk, namun berandai yang buruk adalah ketika kita mengeluhkan hidup kita dan menginginkan hidup seperti orang lain akhirnya menumbuhkan rasa iri dalam hati. Ketika iri sudah hinggap di hati maka akan menimbulkan penyakit hati, dan apapun yang sudah dilakukan akan terasa tidak cukup dan tidak puas dengan tidak menyebut rasa syukur.
Menjadi pribadi yang tidak mudah puas memang dianjurkan, tetapi menjadi pribadi yang tidak bersyukur lebih tidak dianjurkan. Karena, apapun pemberian Tuhan pada hidup kita harus disyukuri. Sebagai manusia hanya mengusahakan yang seharusnya diusahakan.
Urip iku sawang sinawang
Jika dialih bahasakan dalam bahasa Indonesia urip iku sawang sinawang memiliki arti hidup itu tidak seperti yang terlihat. Pepatah ini biasa digunakan sebagai introspeksi diri, dan selalu bersyukur pada Tuhan. Karena hidup itu tidak seperti yang terlihat diluarnya. Ketika kita minta hujan karena merasa musim kemarau membuat berkeringat sepanjang hari, kemudian diberikan hujan. Kita akan mengeluh lagi karena hujan sepanjang hari akan kesulitan untuk beraktifitas dan keluar rumah. Hal yang seperti itu tidak akan ada habisnya dan puasnya jika menuruti hawa nafsu.
Contoh lain ketika menginginkan hidup seperti orang lain yang terlihat bahagia, berkecukupan. Belum tentu tidak ada masalah dalam hidupnya. Barangkali karena dia menutupi dan tidak menampakkan kekurangan dalam hidupnya. Atau bahkan hidup yang kita jalani sebenarnya diinginkan oleh orang lain hanya saja kita tidak mengetahuinya. Kita meresahkan ingin hidup seperti orang lain, sedangkan orang lain meresahkan ingin hidup seperti kita. Coba kita bersyukur dengan hidup kita dan tidak meresahkan kehidupan seperti orang lain. Tentunya yang akan kita dapatkan adalah ketentraman jiwa.
Oleh karena itu, bersyukur dalam segala keadaan dan tidak mengeluhkan kehidupan kita serta terus mengusahakan apa yang diinginkan maka akan merasa hidup dengan cukup. Itulah makna dari pepatah Jawa ‘Urip iku sawang sinawang’.
source: bernas.id
Manusia dalam hidup ini tentunya memiliki harapan dan cita-cita. Bahkan dari harapan dan cita-cita itu seringkali manusia mengandaikan sesuatu yang belum ada di genggamannya. Pernahkan anda berpikir atau mengatakan ‘Andai hidupku seperti dia’ atau ‘Andai aku kaya, pasti aku akan begini dan begitu’? mungkin sebagian dari kita sudah pernah merasakan berandai demikian atau berandai yang lain.
Berandai terjadi karena kita merasa dalam hidup kita masih ada banyak kekurangan dan hidup orang lain sudah lebih baik dari hidup kita. Padahal Tuhan sudah menciptakan manusia pada kadarnya masing-masing. Tuhan pun tahu yang lebih baik bahkan yang terbaik untuk kita. Lantas kenapa masih sering berandai?
Jawabannya adalah karena kurangnya rasa syukur atas pemberian Tuhan pada hidup kita. Berandai memang tidak selalu buruk, namun berandai yang buruk adalah ketika kita mengeluhkan hidup kita dan menginginkan hidup seperti orang lain akhirnya menumbuhkan rasa iri dalam hati. Ketika iri sudah hinggap di hati maka akan menimbulkan penyakit hati, dan apapun yang sudah dilakukan akan terasa tidak cukup dan tidak puas dengan tidak menyebut rasa syukur.
Menjadi pribadi yang tidak mudah puas memang dianjurkan, tetapi menjadi pribadi yang tidak bersyukur lebih tidak dianjurkan. Karena, apapun pemberian Tuhan pada hidup kita harus disyukuri. Sebagai manusia hanya mengusahakan yang seharusnya diusahakan.
Urip iku sawang sinawang
Jika dialih bahasakan dalam bahasa Indonesia urip iku sawang sinawang memiliki arti hidup itu tidak seperti yang terlihat. Pepatah ini biasa digunakan sebagai introspeksi diri, dan selalu bersyukur pada Tuhan. Karena hidup itu tidak seperti yang terlihat diluarnya. Ketika kita minta hujan karena merasa musim kemarau membuat berkeringat sepanjang hari, kemudian diberikan hujan. Kita akan mengeluh lagi karena hujan sepanjang hari akan kesulitan untuk beraktifitas dan keluar rumah. Hal yang seperti itu tidak akan ada habisnya dan puasnya jika menuruti hawa nafsu.
Contoh lain ketika menginginkan hidup seperti orang lain yang terlihat bahagia, berkecukupan. Belum tentu tidak ada masalah dalam hidupnya. Barangkali karena dia menutupi dan tidak menampakkan kekurangan dalam hidupnya. Atau bahkan hidup yang kita jalani sebenarnya diinginkan oleh orang lain hanya saja kita tidak mengetahuinya. Kita meresahkan ingin hidup seperti orang lain, sedangkan orang lain meresahkan ingin hidup seperti kita. Coba kita bersyukur dengan hidup kita dan tidak meresahkan kehidupan seperti orang lain. Tentunya yang akan kita dapatkan adalah ketentraman jiwa.
Oleh karena itu, bersyukur dalam segala keadaan dan tidak mengeluhkan kehidupan kita serta terus mengusahakan apa yang diinginkan maka akan merasa hidup dengan cukup. Itulah makna dari pepatah Jawa ‘Urip iku sawang sinawang’.
source: bernas.id

Komentar
Posting Komentar