Tinjauan Terhadap Tingkat Literasi Indonesia yang Rendah
Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Serta data dari penelitian UNESCO Dimana hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran membaca bila dihitung hanya 1 dari 1000 orang yang masih gemar membaca. Hasil tersebut tentu menjadi suatu dilema yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah.
Walaupun kemampuan literasi merupakan skillvital dan wajib dimiliki oleh tiap individu yang hidup mengikuti derasnya arus globalisasi pada abad ke-21 ini, Namun Indonesia gagal mencapai kriteria yang layak dalam hal tersebut.
Lalu siapakah yang patut disalahkan? Apakah pemerintah? Atau perilaku masyarakat yang kian dimanja dengan canggihnya teknologi? Dalam hal ini sangat sulit untuk menentukan pelaku utamanya karena banyak aspek yang perlu ditelusuri.
Literasi merupakan suatu kemampuan yang berhubungan dengan kegiatan membaca dan menulis. Dengan menguasai hal tersebut maka seseorang akan mampu mengikuti proses edukasi yang berkenaan dalam pengembangan tingkat intelektual individu tersebut. Tentunya hal ini sudah didapatkan dalam Pendidikan dasar di Indonesia, namun problema yang tengah kita hadapi kini adalah bagaimana cara membudayakan kegiatan literasi pada masyarakat.
Kegiatan literasi berhubungan erat dengan membaca. Media bacaan yang banyak tersebar pun tidak menjamin dalam proses peningkatan tingkat literasi masyarakat. Lalu apa yang mengalihkan pandangan masyarakat terhadap media bacaan? Tentu saja ini ada kaitannya dengan perilaku masyarakat kita dalam memperoleh suatu informasi. Terbukti media bacaan masih kalah populer dibandingkan dengan tayangan televisi dilihat dari hasilsurvei Nielsen Consumer Media View (CMV) pada tahun 2017 dimana menyatakan bahwa 96% masyarakat lebih menikmati tayangan televisi sementara presentase penikmat media bacaan seperti majalah, tabloid, serta koran hanya sebesar 10%.
Bila membandingkan tayangan televisi dengan media bacaan bagaikan suatu pertandingan yang berat sebelah. Popularitas televisi di masyarakat diperoleh akibat sifatnya yang komersil serta dapat menjangkau sampai ke pelosok negeri. Proses perkembangannya pun sangat signifikan terlihat dari jumlah saluran yang awalnya Indonesia hanya memiliki satu saluran negeri yaitu TVRI di tahun 60’an hingga pada tahun 90’an terhitung banyak saluran swasta diperbolehkan mengudara seperti RCTI, TPI, SCTV, ANTV, dll.
Melihat sepak terjang media bacaan, media bacaan masih sulit untuk dijangkau masyarakat. Baik media bacaan itu diperoleh secara pribadi dengan membelinya ataupun dengan mengunjungi situs seperti perpustakaan untuk meminjamnya, ternyata hal tersebut masih menjadi keluhan masyarakat.
25.728 jumlah perpustakaan dengan 1.161 di antaranya adalah perpustakaan umum ternyata belum memikat hati masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan secara rutin. Umumnya keluhan yang ditorehkan masyarakat adalah belum layaknya fasilitas perpustakaan dengan standar mereka.
Perpustakaan dirasa masih mempertahankan sifat kaku serta kunonya dan belum mampu mengikuti perkembangan budaya populer dalam jenis bacaan yang tersedia. Bagaimana dengan toko buku? Ternyata masyarakat juga mengeluhkan mengenai lokasi toko buku yang rata-rata mengambil tempat di kota besar serta harga buku modern yang dirasa membebankan.
Keadaan belum layaknya fasilitas seharusnya dapat ditangani dengan mudah oleh pemerintah. Pemerintah dapat mencontoh negara lain dalam mengembangkan fasilitas publiknya, terutama pada pengelolaan perpustakaan. Sifat perpustakaan yang lebih terbuka dalam menyediakan berbagai kategori buku baik koleksi klasik hingga koleksi terkini serta arsitekturnya dan interiornya yang menarik lah yang kini banyak berdiri di negara-negara lain, ini menandakan bahwa pemerintahan mereka sudah tanggap dalam mengembangkan kemampuan literasi masyarakat. Terbukti dengan rata-rata pengunjung perpustakaan yang lebih besar dibandingkan dengan Indonesia.
Selain dengan meningkatkan kualitas fasilitas publik, yang terpenting juga ialah cara membudayakan kegiatan membaca dari dini. Kegiatan membaca mungkin masih menyandang status sebagai kegiatan yang membosankan bagi rata-rata peserta didik di Indonesia karena sebagian besar kegiatan membaca di sekolah adalah dengan menggunakan buku paket pelajaran yang diberikan. Hal ini mendorong siswa untuk berpikir bahwa tema media bacaan hanya menyempitkan pada bidang pelajaran saja walaupun sesungguhnya literatur memiliki limpahan tema yang dapat dipilih. Minat seorang peserta didik dalam mencari tema bacaan lah yang seharusnya digali lebih dalam oleh Lembaga Pendidikan. Kurikulum membaca mungkin dapat diperluas dengan meningkatkan tampilan buku pelajaran serta diselingi dengan membaca literatur bertemakan hal yang disukai siswa.
Dengan meninjau kembali terhadap perilaku masyarakat dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca belum menjadi sebuah budaya yang luas. Pengaruh teknologi yang lebih interaktif dan modern mendorong masyarakat untuk melupakan kegiatan literasi. Kurangnya usaha pemerintah dalam mengelola fasilitas publik serta kegiatan edukasi yang belum bisa membudayakan aktifitas membaca menjadi salah satu faktor terbesar dalam penurunan tingkat literasi masyarakat Indonesia.
Pembenahan terhadap masalah ini tentu harus dilaksanakan secara cepat demi menyelamatkan intelektualitas bangsa.
source : https://garudasekarang.blogspot.com/2018/10/tingkat-literasi-bangsa-indonesia.html?m=1

Komentar
Posting Komentar